Mau Jual Pulsa Elektrik,,??
Hub : 02196430188 tempat pengisian pulsa termurah, tercepat dan semua operator.
Selasa, 27 September 2011
Ranah Sosiologi Komunikasi
Ranah Sosiologi Komunikasi

Sebelum berbicara mengenai ranah sosiologi komunikasi, saya akan coba menjelaskan mengenai apa itu sosiologi. Menurut sejarah, lahirnya sosiologi sangat berkaitan dengan terjadinya perubahan sosial masyarakat di Eropa Barat pada masa Revolusi Industri (Inggris) dan Revolusi sosial (Prancis). Revolusi menyebabkan timbulnya berbagai kekacauan dan disharmoni hubungan antar warga masyarakat. Dengan kata lain, terjadi kesenjangan antara apa yang diharapkan dan apa yang ada.
Menurut Laeyendecker, kelahiran sosiologi selain disebabkan oleh kedua Revolusi di atas, juga terkait dengan serangkaian perubahan jangka panjang yang melanda Eropa Barat di abad pertengahan, proses perubahan jangka panjang yang diidentifikasikan Laeyendecker sebagai pendorong lahirnya sosiologi ialah:
Ø Tumbuhnya kapitalisme pada akhir abad ke 15
Ø Perubahan di bidang sosial dan politik
Ø Perubahan berkenaan dengan reformasi Martin Luther
Ø Meningkatnya individualisme
Ø Lahirnya ilmu pengetahuan modern
Ø Berkembagnya kepercayaan pada diri sendiri
Menjelaskan, bahwa kekuatan social yang mendorong pertumbuhan sosiologi ialah:
Ø Revolusi politik
Ø Revolusi industri dan munculnya kapitalisme
Ø Munculnya sosialisme
Ø Urbanisasi
Ø Perubahan keagamaan
Ø Pertumbuhan ilmu
Ranah Sosiologi Komunikasi berbeda dengan studi-studi komunikasi dan sosiologi secara keseluruhan, dengan kata lain objek sosiologi komunikasi tidak sama dengan sosiologi secara umum, begitu juga sosiologi komunikasi tidak mengambil objek komunikasi secara utuh, akan tetapi sosiologi komunikasi menjembatani studi-studi sosiologi dan studi-studi komunikasi dimana jembatan itu dibangun berdasarkan kajian sosiologi tentang interaksi social yang dalam sosiologi dikenal dengan subkajian masalah-masalah komunikasi, kemudian menariknya ke dalam studi komunikasi yang berkaitan erat dengan sosiologi yaitu studi-studi media, dampak media maupun perkembangan media komunikasi. Namun karena begitu dekatnya studi-studi sosiologi dan studi-studi komunikasi, maka kajian sosiologi komunikasi ini berkembang menjadi satu kajian yang tidak bisa lagi dibedakan secara sosiologi dengan komunikasi. Dalam arti kita membahas kasus-kasus sosiologi komunikasi, maka akan ditemukan kenyataan bahwa apa yang menjadi perhatian sosiologi itu jugalah yang menjadi perhatian komunikasi. Hal ini terjadi karena ranah sosiologi dan kajian komunikasi adalah kajian utama dan terpenting dari kajian sosiologi dan kajian komunikasi itu sendiri, yaitu individu, kelompok, masyarakat, dunia, dan segala interaksinya. Studi-studi sosiologi komunikasi selain bersifat interdisipliner dan terbuka terhadap sumbangan disiplin ilmu lain, sosiologi komunikasi juga memiliki objek kajian yang terbuka luas setiap saat, seirama dengan cepatnya perubahan-perubahan sosial-budaya dan teknologi media yang berkembang di masyarakat beserta semua aspek yang mengikutinya.
Individu dalam ranah komunikasi ini berasal dari kata individum (latin), yaitu satuan kecil yang tidak dapat dibagi lagi, Individu menurut konsep sosiologis, artinya manusia yang hidup berdiri sendiri, tidak mempunyai kawan (sendiri). Individu sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, di dalam dirinya selalu dilengkapi dengan kelengkapan hidup yang meliputi raga, rasa, rasio, dan rukun. Sedangkan Istilah masyarakat dari bahasa Arab “syaraka” yang berarti ikut serta, berpatisipasi, atau “muyaraka” yang berarti saling bergaul. Di dalam bahasa Inggris dipakai istilah “society”, yang sebelumnya berasal dari kata lain “socius”, berarti “kawan” (Koentjoroningrat,1980). Pendapat sejenisnya juga terdapat dalam buku; Sosiologi Kelompok dan Masalah Sosial, karangan Abdul Syani (1987), dijelaskan bahwa perkataan masyarakat berasal dari kata musyarak (arab), yang artinya bersama-sama, kemudian berubah menjadi masyarakat, yang artinya berkumpul bersama, hidup bersama dengan saling berhubungan dan saling mempengaruhi, selanjutnya mendapatkan kesepakatan menjadi masyarakat (Indonesia).
Dalam ranah sosiologi setiap individu, kelompok, dan masyarakat dengan yang lainnya akan terjadi komunikasi sebagai prasyarat kehidupan manusia. Kehidupan manusia akan tampak ”hampa” atau tiada kehidupan sama sekali apabila tidak ada komunikasi. Karena tanpa komunikasi, interaksi antar manusia, baik secara perorang, kelompok ataupun organisasi tidak dapat terjadi. Dua orang dikatakan melakukan interaksi apabila masing-masing melakukan kasi dan reaksi.
Berikut adalah arus komunikasi :
A (Komunikator)
B (Komunikate/khalayak)
Aksi transaksi yang dilakukan manusia ini (baik secara perorangan, kelompok, atau organisasi), dalam ilmu komunikasi disebut sebagai tindakan komunikasi. Tindakan komunikasi dapat dilakukan dalam berbagai macam cara, baik secara “verbal” (dalam bentuk kata-kata baik lisan dan atau tulisan) ataupun “non verbal” (tidak dalam bentuk kata-kata, misalnya gestura, sikap, tingkah laku, gambar-gambar dan bentuk-bentuk lainnya yang mengandung arti). Tindakan komunikasi juga dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.
Dalam sosiologi komunikasi terjadi proses dan interaksi sosial, Proses sosial itu sendiri adalah cara-cara berhubungan yang dilihat apabila orang-perorangan dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentu-bentuk hubungan tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya pola-pola kehidupan yang terlah ada. Proses sosial dapat diartikan sebagai pengaruh timbale-balik antara pelbagai segi kehidupan bersama, misalnya pengaruh-mempengaruhi antara sosial dengan politik, politik dengan ekonomi, ekonomi dengan hukum, dst.
Interaksi Sosial sebagai Faktor Utama dalam Kehidupan Sosial. Dalam kehidupan bersama diperlukan interaksi sosial, karena Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial. Tanpa interaksi sosial tak akan mungkin ada kehidupan bersama. Bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial(yang juga dapat dinamakan sebagai proses sosial) karena interasi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Interaksi sosial antara kelompok-kelompok manusia terjadi anatara kelompok tersebut sebagai suatu kesatuan dan biasanya tidak menyangkut pribadi anggota-anggotanya.
Interaksi Sosial sebagai Faktor Utama dalam Kehidupan Sosial. Dalam kehidupan bersama diperlukan interaksi sosial, karena Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial. Tanpa interaksi sosial tak akan mungkin ada kehidupan bersama. Bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial(yang juga dapat dinamakan sebagai proses sosial) karena interasi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Interaksi sosial antara kelompok-kelompok manusia terjadi anatara kelompok tersebut sebagai suatu kesatuan dan biasanya tidak menyangkut pribadi anggota-anggotanya.
Interaksi sosial antara kelompok-kelompok manusia terjadi pula di dalam masyarakat. Interaksi tersebut lebih mencolok ketika terjadi benturan antara kepentingan perorangan dengan kepentingan kelompok. Interaksi sosial hanya berlangsung antara pihak-pihak apabila terjadi reaksi terhadap dua belah pihak. Interaksi sosial tak akan mungkin teradi apabila manusia mengadakan hubungan yang langsung dengan sesuatu yang sama sekali tidak berpengaruh terhadap sistem syarafnya, sebagai akibat hubungan termaksud. Dalam suatu proses interaksi yang sedang berlangsung didasari pada beberapa faktor, yaitu :
1. Imitasi
Salah satu segi positifnya adalah bahwa imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku
2. Sugesti
Salah satu segi positifnya adalah bahwa imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku
2. Sugesti
Faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberi suatu pandangan atau suatu sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain.
3. Identifikasi
Identifikasi sebenarnya merupakan kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Identifikasi sifatnya lebih mendalam daripada imitasi, karena kepribadian seseorang dapat terbentuk atas dasar proses ini.
4. Proses simpati
Sebenarnya merupakan suatu proses dimana seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Di dalam proses ini perasaan memegang peranan yang sangat penting, walaupun dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk memahami pihak lain dan untuk bekerja sama dengannya.
3. Identifikasi
Identifikasi sebenarnya merupakan kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Identifikasi sifatnya lebih mendalam daripada imitasi, karena kepribadian seseorang dapat terbentuk atas dasar proses ini.
4. Proses simpati
Sebenarnya merupakan suatu proses dimana seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Di dalam proses ini perasaan memegang peranan yang sangat penting, walaupun dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk memahami pihak lain dan untuk bekerja sama dengannya.
Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (cooperation), persaingan (competition), dan bahkan dapat juga berbentuk pertentangan atau pertikaian (conflict). Pertikaian mungkin akan mendapatkan suatu penyelesaian, namun penyelesaian tersebut hanya akan dapat diterima untuk sementara waktu, yang dinamakan akomodasi. Ini berarti kedua belah pihak belum tentu puas sepenunya. Suatu keadaan dapat dianggap sebagai bentuk keempat dari interaksi sosial. Keempat bentuk poko dari interaksi sosial tersebut tidak perlu merupakan suatu kontinuitas, di dalam arti bahwa interaksi itu dimulai dengan kerja sama yang kemudian menjadi persaingan serta memuncak menjadi pertikaian untuk akhirnya sampai pada akomodasi.
Selanjutnya yang terkait dengan individu, kelompok, dan masyarakat dalam ranah sosiologi komunikasi adalah komunikasi massa. Definisi komunikasi massa yang paling sederhana dikemukakan oleh Bittner (Rakhmat, seperti nyang disitir Komala, dalam Karlinah, dkk. 1999), yakni: Komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang (mass communication is messages communicated through a mass medium to a lrge number of people). Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa komunikasi massa itu harus menggunakan media massa. Jadi, sekalipun komunikasi itu disampaikan kepada khalayak yang banyak, seperti rapat akbar dilapangan luas yang dihadiri oleh ribuan, bahkan puluhan ribu prang, jika tidak menggunakan media massa, maka itu bukan komunikasi massa. Media komunikasi yang termasuk media massa adalah radio siaran, dan televisi keduanya dikenal sebagai media elektronik; surat kabar dan majalah keduanya disebut sebagai media cetak; serta media film.
Kelebihan komunikasi massa dibandingkan dengan komunikasi lainnya, adalah jumlah sasaran khalayak atau komunikasi yang dicapainya relatif banyak dan tidak terbatas. Bahkan lebih dari itu, komunikasi yang banyak tersebut secara serempak pada waktu yang bersamaan memperoleh pesan yang sama pula. Komunikasi merupakan sejenis kekuatan sosial yang dapat menggerakan proses sosial ke arah suatu tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Akan tetapi untuk mengetahui secara tetap dan rinci mengenai kekuatan sosial yang dimiliki oleh komunikasi massa dan hasil yang dapat dicapainya dalam menggerakan proses sosial tidaklah mudah. Oleh karena itu, efek atau hasil yang dapat dicapai oleh komunikasi yang dilaksanakan melalui berbagai media (lisan, tulisan, visual/audio visual) perlu dikaji melalui metode tertentu yang bersifat anlisis psikologi dan analisis sosial. Yang dimaksud analisis psikologi adalah kekuatan sosial yang merupakan hasil kerja dan berkaitan dengan watak serta kodrat manusia. Sedangkan analisis sosial adalah peristiwa sosial yang terjadi akibat komunikasi massa dengan penggunaan media massa yang sangat unik serta kompleks.
Dalam proses komunikasi massa dikenal istilah feedback atau umpan balik. Umpan balik merupakan reaksi (tanggapan) yang menerima pesan atau komunikasi kepada penyampai pesan atau komunikasi atau sumber. Selain itu, umpan balik juga dapat berupa reaksi yang timbul dari pesan kepada komunikator. Dengan demikian umpan balik yang terjadi dalm proses komunikasi massa dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Internal feedback
b. External feedback
c. Representative
d. Cumulative feedback
e. Quantitative feedback
f. Institusionalized feedback
Setiap kegiatan komunikasi, apakah komunikasi antar personal, komunikasi kelompok, komunikasi media dan komunikasi massa sudah pasti akan menghadapi berbagai hambatan. Hambatan dalam kegiatan komunikasi yang manapun tentu akan memengaruhi efktifitas proses komunikasi tersebut. Pada komunikasi massa, jenis hambatannya relatif lebih kompleks sejalan dengan kompleksitas komponen komunikasi massa. Setiap komunikator selalu menginginkan komunikasi yang dilakukannya dapat mencapai tujuan. Oleh karenanya seorang komunikator perlu memahami setiap jenis hambatan komunikasi, agar ia dapat mengantisipasi hambatan tersebut. Beberapa hambatannya yaitu :
- HambatanPsikologis
Hambatan komunikasi massa yang termasuk dalam hambatan psikologis adalah kepentingan (interest), prasangka (prejudice), stereotip (stereotype), dan motivasi (motivation). Disebut sebagai hambatan psikologis karena hambatan-hambatantersebut merupakan unsur-unsur dari kegiatan psikis manusia.
- Kepentingan (interest)
Kepentingan atau interest akan membuat seseorang selektif dalam menanggapi atau menghayati pesan. Orang hanya akan memperhatikan perangsang (stimulus) yang ada hubungannya dengan kepentingannya. Effendy (komala dalam karlinah, dkk.1999) mengemukakan secara gamblang bahwa apabila kita tersesat dalam hutan dan beberapa hari tak menemui makanan sedikitpun,
Makan kita akan lebih memperhatikan perangsang-perangsang yang mungkin dapat dimakan daripada yang lain-lainnya.
- Prasangka (prejudice)
Menurut Sears, Prasangka berkaitan dengan persepsi orang tentang seseorang atau kelompok lainnya, dan serta sikap serta perlakunya terhadap mereka (Komala, dalam Karlina, dkk. 1999). Untuk memperoleh gambar yang jelas mengenai prasangka, maka sebaiknya kita bahs terlebih dahulu secara singkat pengertian persepsi. Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.
- Sterotip (stereotype)
Prasangka soisal bergandengan dengan stereotip yang merupakan gambaran atau tanggapan tertentu mengenai sifat-sifat dan watak pribadi orang atau golongan lain yang bercorak negatif (Gerungan, pada Komala, dalam Karlina, dkk. 1999)
- Motivasi (Motivation)
Semua tingkah laku manusia pada hakikatnya mempunyai motif tertentu. Motif merupakan suatu pengertian yang melingkupi semua penggerak, alasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan manusia berbuat sesuatu.
Pada umumnya kita lebih tertarik kepada apa yang dilakukan media pada kita daripada apa yang kita lakukan pada media massa. Sebagai contoh, kita ingin mengetahui untuk apa kita membaca surat kabar, mendengarkan radio siaran, menonton televisi dan seterusnya, tetapi kita tidak mau tahu bagaimana surat kabar, radio siaran, dan televisi dapat menambah pengetahuan, mengubah sikap atau menggerakan perilaku kita.
Donald K. Robert (Komala, dalam Karlina, dkk.1999) mengucapkan, ada yang beranggapan bahwa ”efek hanyalah perubahan perilaku manusia diterpa pesan media massa”. Oleh karena fokusnya pesan, maka efek harus berkaitan dengan pesan 7yang disampaikan media massa.
Media massa pun memiliki efek yang berbeda bagi setiap penggunanya. Mc Luhan mengemukakan the medium is the message, media adalah pesan itu sendiri. Oleh karena itu, bentuk media saja sudah memengaruhi khalayak. Yang memengaruhi khalayak bukan apa yang disampaikan oleh media, tetapi jenis media komunikasi yang digunakan oleh khalayak tersebut, baik tatap muka maupun melalui media cetak atu elektronik. Menurut Steven M. Chaffee, ada lima jenis efek kehadiran media massa sebagai benda fisik, yaitu: efek ekonomis, efek sosial, efek pada penjadwalan kegiatan, efek penyaluran/penghilangan perasaan tertentu, dan efek pada perasaan orang terhadap media.
Mengapa terjadi efek yang berbeda? Belajar dari media massa tidak bergantung hanya pada unsur stimulus yang ada pada media massa saja. Kita memerlukan teori untuk menjelaskan peristiwa belajar semacam ini. Menurut teori belajar sosial dari Bandura, orang cenderung meniru perilaku yangb diamatinya. Stimjulus menjadi teladan untuk perilakunya. Wanita meniru potongan rambut Lady Di yang disiarkan melalui media massa. Menyajian adegan kekerasan dalam media massa akan menyebabkan orang akan melakukan kekerasan pula. Jadi, sejauh ini, tampaknya teori belajar sosial dapat diandalkan untuk menjelaskan efek behavioral media massa. Penelitian efek media massa terhadap khalayak bert7ujuan untuk mengetahui sejauh mana media atau proses penyampaian pesan memengaruhi khalayak dalam berpikir, bersikap dan berperilaku. Penelitian efek ini juga digunakan untuk mengetahui sejauh mana perubahan sosial terjadi, karena kehadiran media atau karena pesan media massa. Dari data tentang khalayak tersebut kita akan tau profil khalayak, informasi yang dibutuhkanh khalayak, teknik penyampaian pesan yang paling efektif, serta efek dan komunikasi bermedia.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang begitu sering membicarakan soal kebudayan. Juga dalam kehidupan sehari-hari, orang tak mungkin tidak berurusan dengan hasil-hasil kebudayaan. setiap harin orang melihat, mempergunakan, dan bahkan kadang-kadang merusak kebudayaan. Kebudayaan sebenarnya secara khusus dan lebih teliti dipelajari oleh antropologi budaya. Walaupun demikian, seseorang yang memperdalam perhatiannya terhadap masyarakat, tak dapat menyampingkan kebudayaan begitu saja. Karena didalam kehidupan nyata, keduanya tak dapat dipisahkan dan selamanya merupakan dwitunngal.
1. Arti kebudayaan menurut antropologi kebudayaan
Ø Taylor mengartikan kebudayaan sebagai keseluruhan yang kompleks yang didalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hokum, adat istiadat, dan kemampuan serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Ø Koentjaraningrat juga menggunakan perspektif antropologi, mengartikan kebudayaan sebagai “keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar”.
Ø C. Wissier, C. kluckhohn, A. Davis, dan A. Hoebel secara mirip mengartikan kebudayaan sebagai perbuatan yang pada dasarnya merupakan instink.
Ø R. Linton mengemukakan, bahwa kebudayaan adalah konfigurasi dari tingkah laku yang unsur-unsur pembentukannya didukung dan diteruskan oleh anggota darimasyarakat tertentu.
Ø C. kluckhohn dan W.H.Kelly merumuskan, bahwa kebudayaan adalah pola untuk hidup yang tercipta dalam sejarah yang eksplisit, implisit, rasional, irasional, dan nonrasionil.
Ø Kebudayaan yang terdapat antara umat manusia itu sangat beraneka ragam.
Ø Roucek dan Warren mengatakan, bahwa kebudayaan itu bukan saja merupakan seni dalam hidup, tetapi juga benda-benda yang terdapat disekeliling manusia yang dibuat oleh manusia.
Ø Herkovits Malinowski memberikan definisi kebudayaan sebagai suatu yang superorganik.
Ø Hasan Shadily mengemukakan, kebudayaan berarti keseluruhan dari hasil manusia hidup bermasyarakat.
Kebudayaan tercipta karena keberadaan manusia, manusialah yang menciptakan kebudayaan dan manusia pula menjadi pemakainya, sehingga kebudayaannya akan selalu ada sepanjang keberadaan manusia.
Kebudayaan dan masyarakat tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.
Kebudayaan merupakan rujukan orientasi nilai, norma, aturan, dan menjadi pedoman tingkah laku sehari-hari anggota masyarakatnya dalam hidup berkelompok dan dalam kehidupan diri sebagai pribadi.
Kebudayaan tercipta karena keberadaan manusia. Manusia menciptakan dan memakainya, sehingga kebudayaan selalu ada sepanjang keberadaan manusia. Masyarakat merupakan kolektivitas individu yang secara bersama-sama menciptakan kebudayaan. Norma dan nilai sebagai unsur kebudayaan merupakan pedoman dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh sebab itu, unsur kebudayaan itu merupakan alat dan rujukan terhadap tindakan anggota dan masyarakat itu sendiri secara keseluruhan.
Masyarakat sebagai satu kesatuan berfungsi sebagai alat kontrol terhadap anggota-anggotanya sedemikian rupa agar seluruh anggotanya menghormati dan menjalankan kegiatan sesuai dengan norma-norma budaya yang diciptakannya sendiri.Fungsi kebudayaan bagi masyarakat itu adalah mengatur agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat, menentukan sikapnya kalau mereka berhubungan dengan orang lain. Kebiasaan (habit) merupakan sesuatu prilaku pribadi, pribadi berarti bahwa kebiasaan orang seseorang itu berada dari peri kebiasaan orang lain.walu misalnya mereka hidup dalam satu rumah.
Kebiasaan tersebut menunjuk pada suatu gejala seseorang didalam tindakan-tindakannya selalu ingin melakukan hal-hal yang teratur baginya, kebiasaan-kebiasaan yang baik akan diakui serta dilakukan oleh orang-orang lain yang bermasyarakat. Bahkan, lebih jauh lagi, begitu mendalamnya pengakuan atas kebiasaan seseorang, sehingga dijadikan patokan bagi orang lain,bahkan mungkin dijadikan peraturan.
Langganan:
Komentar (Atom)